SEJARAH MUHAMMADIYAH
DI SAMPANG
Muhammadiyah di Sampang berdiri sekitar tahun 60-an. Orang yang pertama kali mengenalkan dan kemudian menyebarkan Muhammadiyah di daerah Sampang adalah adalah Ahmad Putro Diharjo, seorang Pegawai negeri yang waktu itu menjabat sebagai kepala kantor Depdikbud Kabupaten Sampang. Pada masa awal perkembangannya, Muhammadiyah di Sampang lebih banyak dimotori oleh para pendatang dari luar daerah, khususnya dari Jawa, yang rata-rata mereka berprofesi sebagai guru, Pegawai negeri atau pejabat pemerintahan lainnya. Sehingga tidak terlalu mengherankan jika pada awal masa berdirinya, tidak banyak warga Sampang yang terlibat dalam kepengurusan maupun sebagai anggota biasa Muhammadiyah.
Tetapi karena kegigihan para pengurus dan pendirinya, lambat laun Muhammadiyah banyak mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.
Sampai hari ini tercatat antara 5000 sampai 7000 anggota dan simpatisan Muhammadiyah di kawasan PDM Sampang, meskipun dari keempat kabupaten yang ada di Madura, Sampang merupakan kabupaten yang massa Muhammadiyahnya paling minoritas. Selain itu, perkembangan Muhammadiyah di Sampang juga ditandai dengan mulai berdirinya beberapa cabang di daerah ini.
Dari 12 kecamatan yang ada di wilayah ini, telah berdiri 5 cabang penuh dan sudah aktif, 3 cabang dalam persiapan untuk berdiri dan selebihnya belum “tersentuh” oleh tradisi Muhammadiyah, akan tetapi masih dalam taraf perintisan atau penjajakan. Sementara jumlah ranting di sleuth PDM Sampang adalah kurang lebih 15 ranting. Di tiap-tiap cabang, kira-kira hanya ada 2-3 ranting saja. Tetapi karena memang kondisinya belum memungkinkan, maka dengan jumlah ranting yang ada itu pun tetap didirikan PC Muhammadiyah. Kultur dasar masyarakat Madura yang telah dikuasai oleh kultur tradisional, ternyata merupakan hambatan yang cukup berarti bagi perkembangan Muhammadiyah di daerah ini.
Hadirnya Muhammadiyah di Sampang tidak serta merta diikuti ortom-ortomnya. Kecuali Aisyiah yang hampir bersamaan. Ortom-ortom lainnya yang termasuk dalam AMM, baru ada dan aktif pada tahun 1990-an, yaitu NA, Pemuda Muhammadiyah dan Ikatan Remaja Muhammadiyah. Khusus IMM, belum dapat didirikan di sini, karena tidak (belum) ada PTM di daerah ini.
Seperti layaknya Muhammadiyah di daerah-daerah lain kehadiran Muhammadiyah di Sampang pun ditandai dengan adanya amal usaha yang sangat beragam. Tercatat ada 1 BKIA yang didirikan pada tahun 1995, juga sejumlah lembaga pendidikan, khususnya dari tingkat TK sampai pondok pesantren. Tak ketinggalan pula ada TKA dan TPA. Bahkan Muhammadiyah di Sampang juga memiliki pondok pesantren yang cukup aktif dengan jumlah santri sekitar 600 orang di bawah pimpinan KH. Sutardjo.
Secara umum hambatan pengembangan Muhammadiyah di Sampang adalah: (1). hambatan kultural berupa basis masyarakat tradisional, dan (2) hambatan operasional, yaitu kurangnya SDM, sehingga beberapa posisi harus di rangkap oleh satu orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar